Translate

Senin, 09 Juni 2014

ANAK PERTAMAKU

                  
         Pada hari  kamis pahing jam 20.45  malam jumat pon, tanggal  20  September 1996/ 07 jumadil ula lahir anak pertamaku . Kuberi nama Tajun Millatu Syafa'at dengan harapan namanya menjadi doa kelak akan menjadi mahkota indah penolong agama Islam sesuai arti nama berbahasa arab tersebut. Anak yang sangat manis dan membanggakan sesuai harapan orangtua.  Dengan berat 3,1 kg dan panjang  49 cm, berkulit putih cenderung  kemerahan, bermata sipit , lincah, sehat dan lucu, bahkan para tetanggaku  mengatakan anaku mirip orang jepang atau cina. Usia 5 bulan sudah penuh giginya, 9 bulan sudah bisa berlari2, 1,5  tahun hafal doa sehari2 dan main game di komputer tanpa diajari hanya meniru teman2nya, cerdas, lincah, sehat, lucu, seorang anak idaman orangtua yang membanggakan. 
            Sayangnya suamiku tidak menyadari hal ini, sejak umur 9 bulan sudah "diajar" dengan kekerasan. Waktu itu dia ingin kencing, tetapi karena aku dan suamiku sedang fokus menerima tamu, maka tidak mengetahui bahwa Tajun kecilku ingin kencing, tanpa disangka dia kencing di tempat, di ruang tamu di mana kami sedang duduk bersama tamu kami. Tanpa kuduga setelah tamu pamit, suamiku membawa anakku ke kamar kecil, dan di sana dimasukkan ke bak mandi kosong dengan lampu dimatikan, dengan hanya dipegangi kaki mungilnya yg lucu dengan posisi kepala di bawah, jadi anakku menengis , menjerit2 keras2, maka aku mendatangi mereka berdua dan segera meminta anak kami dengan berkata 
" Ya Alloh, koq seperti itu, sini, kasihan dong, anak kecil diperlakukan begi tu, itu , sini "
Lalu ku bopong anakku, dengan tetap memaafkan suamiku.
           Kemudian pada umur 3 tahun, anaku juga pernah di "ditabok" / pukul dengan telapak tangan sampai, pantatnya merah2 ngecap/ telapak tangan suamiku membekas  gambar telepak di pantatnya, saking kerasnya pukulan tersebut, dengan berkali2. Kekerasan2 terus berlanjut sampai anakku remaja saat ini, pernah di pukul dadanya sampai berbuny " bug " saking kerasnya pukulan tersebut hanya karena pinjam motor adiku, pernah juga semasa masih duduk di kelas 5 SD mata dan bibirnya digosok dengan cabai hanya karena main PS . Ya Alloh, bukan ingin mengungkap keburukan suami atau membuka aib keluarga kami, tetapi aku hanya sedang menganalisa dan prihatin terhadap nasib anak pertamaku.
           Sikap egois, keras, temperamental bahkan sadisnya suamiku tidak pernah kupikir bahwa hal tersebut adalah hal yang sangat kejam dan mengerikan, aku hanya bersabar dan menjadi penengah antara suami dan anakku. Tetapi kali ini aku jadi teringat akan beberapa sikap suamiku pada anakk2ku, karena aku sedang prihatin pada perilaku anak pertamaku.
           Dulu ketika masih duduk dibangku SMP pernah minta keluar/ putus sekolah karena sudah terlalu banyak membolos dan suamiku malah mengajukan pada gurunya untuk memberi sangsi tidak naik kelas padanya, padahal dia anak yang sangat cerdas dengan nilai di atas caumload dan masuk kelas unggulan, betapa down tidak naik kelas. Kemudian dia juga menyukai teman bermainnya dengan serius, padahal masih SMP dan bukan perempuan baik2 yang disukai gadis SMU. Alhamdulillah kami dapat melewati semuanya dengan baik, aku dengan sabar mengarahkan dan mendoakannya sehingga sekarang masih sekolah SMU dan sudah tidak berhubungan dengan perempuan itu lagi.
            Hanya saja saat ini dia baru duduk di  kelas 2 SMU malah tiba2 memintaku menemui orangtua gadis teman nyantrinya untuk menyatakan keseriusan hubungan mereka. Aku kaget luar biasa karena menurutku anakku masih sangat belia dan aku akan menikahkan anak2ku minimal bila mereka telah lulus kuliah S1. 
            Saat ini aku jadi berpikir, barangkali karena kesibukanku yang kurang punya waktu bersama anak2ku dan perilaku suamiku yang keras dan sadis tanpa kasih sayang pada anak2nya sehingga anak2ku tumbuh di lingkungan pergaulan yang salah, maka kurang bisa memilih jalan yang baik dan bijak. Maka saat ini aku hanya berdoa dan optimis kami juga akan bisa melewati masalah ini dan dapat mewujudkan keinginan meraih cita2, meneyelesaikan studi dulu sebelum menikah, dan mereka anak2ku akan menjadi anak2 yang berkualitas bagus, berprestasi gemilang serta dapat menjadi  Auliaulloh, Amiin.
                                                                                                           Senin wage, 9 juni 2014
                                                                                                                      19 Sya'ban 1435 H
 



 












Rabu, 04 Juni 2014

MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

Gambar bulan bintang

               Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti2 oleh umat Islam. Bahkan Ramadhan sering disebut sebagai bulan suci. Karena bulan ramadhan adalah salah satu bulan yang dimuliakan oleh Alloh SWT. Ada 4 bulan yang dimuliakan oleh Alloh SWT, ada pendapat yang mengatakan 4 bulan tersebut antara lain ; bulan Rojab, sya'ban, ramadhan dan muharom.
                  Bahkan dalam sebuah hadis dikatakan " Arojabu syahrulloh, wa syabana syahri wa romadhona syahru ummati" yang artinya : Rojab adalah bulan Alloh, sya'ban bulanku ( Nabi Muhammad saw ) dan Romadhan adalah bulan umatku. Mengapa rojab dikatakan nsebagai bulan Alloh SWT, hal ini Ulama menjelaskan bahwa bulan Rojab terdiri dari 3 huruf  ( ro, jim, ba ) Ro berarti rohmat Alloh SWT, Jim : jaromun / dosa, ba ; Birrun/ kebaikan. Maka pada bulan Rojab adalah bulan yang penuh rhmat Alloh dan kebaikan, tidak boleh berbuat dosa. Rojabun juga diartikan tuli, bulan rojab adalah bulan penuh rohmat Alloh SWT dimana keburukan tidak diperhitungkan atau tidak didengar oleh Alloh SWT, hannya kebaikan yang akan dibalas dengan berlipat ganda.
                Kemudian  bulan sya'ban dinyatakan sebagai bulannya Rosululloh SAW karena beliau banyak berpuasa dan berkholwat di bulan ini untuk menyambut dan mempersiapkan diri akan datangnya bulan Ramadhan. Pada bulan ini paling banyak puasa sunnah yang dilakukan oleh beliau. Tetapi umatnya tidak dianjurkan
                   Sedangkan ramadhan dikatakan sebagai bulan umatnya Rosululloh SAW, karena pada bulan ramadhan umat Islam di wajibkan menjalankan puasa 1 bulan penuh sebagai perwujudan kasih sayang Alloh SWT. Umat Islam diberi kesempatan untuk membersihkan diri lahir batin, sehingga akan sehat lahir batin. Fisik yang selama 11 bulan capai beroperasi, organ pencernaan makanan yang selalu beraktifitas, pada bulan ramadhan diatur sehingga lebih rilex. Malamnya shalat tarwih dan riyadhoh membersihkan hati dan jiwa dari penyakit-penyakit rohani. Maka bulan ramadhan juga dikatakan sebagai bulan suci, bulan untuk mensucikan diri lahir batin, jasmani rohani, dan bulan yang suci dari dosa dan maksiat karena memperbanyak amal ibadah. Siang berpuasa, malam qiyamul lail dan riyadhoh.
                  Bukan hanya itu Alloh SWT bahkan memberi penghargaan yang sangat tinggi dan mulia bagi umat Islam di bulan Ramadhan. Hanya dengan merasa senang akan datangnya ramadhan saja sudah dobebaskan dari 2 neraka, sebagaimana dalam hadis dikatakan : " man fariha biduhuli ramadhan haromallohu jasadahu 'ala nirooni " Yang artinya : Barang siapa merasa senang dengan datangnya bulan romadhan maka Alloh mengharamkan jasadnya dari 2 nerakan." Subhanalloh demikian besar cinta Alloh SWT pada umat Muslim dan demikian besar keutamaan bulan ramadhan sehingga orang yang hanya senang saja akan datangnya ramadhan sudah dibebaskan dai 2 neraka. 
               Maka dari analog ini juga kita bisa balik bertanya, bagaimana bila sebaliknya ? Kita justru sedih akan datangnya ramadhan ? Karena ternyata banyak juga orang yang merasa sedih dan terbebani akan datangnya romadhon. Mereka adalah orang2 yang takut dan malu bila datangnya romadhon karena dia muslim tetapi tidak menjalankan syari'at Islam. Takut dan malu pada tetangga karena tidak berpuasa dan shalat tarwih padahal teman2nya semua berpuasa dan trawih. Bahkan ada juga yang sedih dengan datangnya romadhan karena harga sembako dan kebutuhan hidup naik. Na'udzubillah...
Bila kita mengalami perasaan2 ini hendaknya secepatnya istighfar, membaca sahadat dan memohon kekuatan kepada Alloh SWT agar dijadikan orang yang bisa menjadi Muslim yang kaffah, Muslim yang bisa menjalankan syariat Islam bukan hanya pengakuan atau Islam di KTP saja. Kita juga harus takut dan kewatir 'mengapa ramadhan datang malah bersedih ? Bukankah ini adalah salah satu indikasi lemahnya iman dan Islam kita ?
           Bukan bulannya yang salah tapi manusianya yang latah menaikkan harga menjelang romadhon. Apalagi banyak dikalangan Muslim di bulan romadhan yang mestinya berhemat karena makan cuma 2x sehari, yaitu waktu sahur dan berbuka puasa malah jadi membengkak pengeluaran karena, ramai2 membeli cemilan, segeran atau makan malam yang berlebihan, sehingga menyimpang dari maksa puasa itu sendiri yang artinya menahan malah jadi berfoya2. Hal ini juga salah satu faktor mengapa harga kebutuhan hidup meningkat karena sikap konsumtif masyarakat yang makin menjadi ketikan bulan ramadha.
                Mari kita sambut ramadhan dengan hati yang bahagia, damai dan mengahrap rahmat dan ampunan Alloh SWT. Bulan yang menawarkan cinta kasih Alloh SWT. Semoga kita termasuk orang2 yang dikasihi olehNYA. Amiin
                                                                                                                Kamis Kliwon, 05 juni 2014

Selasa, 03 Juni 2014

KEADILAN


Keadilan adalah sesuatu yang mudah diucapkan namun sangat sulit diwujudkan, baik keadilan untuk personal individual, keluarga maupun kelompok dan masyarakat. Begitu banyak manusia yang merindukan keadilan, terutama mereka yang sedang mengalami penderitaan karena diperlakukan tidak adil atau dianiaya oleh pihak lain. Maka dalam Islam keadilan sangat diutamakan. Bahkan sering sejarah mencatat beberapa tokoh keadilan yang terus hidup di hati rakyat meski sudah ribuan tahun meninggal dunia. Seperti kisah Putri Shima seorang Ratu , penguasa kerajaan Sumatra yang sangat disegani oleh rakyatnya karena sikap dan kepribadiannya yang selalu menjunjung tinggi keadilan. Dikisahkan di sana bahwa Putri Shima menghukum kakak kandungnya yang mencuri, meskipun beliau seorang Ratu. 
            Dalam kisah ini dapat diambil beberapa pelajaran antara lain, bahwa :
1. Keadilan adalah hal yang sangat penting sehingga siapapun yang memiliki sifat ini akan dikenang sepanjang
    masa.
2. Siapapun bisa bersikap adil, termasuk seorang perempuan ataupun Raja dan Ratu, sehingga sikap adil bi-
    sa dimiliki dan diwujudkan oleh siapa saja tidak memandang jenis kelamin dan jabatan.
3. Keadilan juga bisa diberlakukan kepada siapa saja termasuk kepada saudara kandung, apalagi terhadap 
    dii sendiri
4. Keadilan sangat sulit dilaksanakan terutama bila dihadapkan pada persolaan sulit yang menyangkut diri 
    sendiri dan keluarga, maka legenda Putri Shima yang mampu menegakkan keadilan pada kakak kandung
    nya terus tertanam dalam benak rakyatnya sampai saat ini.
             Hari ini aku sedang kecewa karena menyaksikan ketidak adilan untuk yang kesekian kalinya. Tepatnya adalah propsal penelitianku tidak diterima karena teman kerjaku mengajukan penelitian dengan "loby " khusus. Aku merasa heran saja, sampai saat ini lembaga ilmiah di bawah Kemenag tetap tidak bisa berlaku adil. Tetap melakukan KKN ( korupsi, kolusi dan nepotisme ) Bahkan di Kemenag sendii budaya ini masih kental sejak aku kanak2 sampai saat ini, lembaga yang nota bene tempat berkumpulnya para 'alim ', sungguh ironis ! Salah satu alasan aku tidak mau menjadi PNS Kemenag meski sudah didatangai kasi Urais 3x kali / 3 tahun berturut adalah karena nialiaku yang nomor 1 se-Kabupaten Cilacap, tetap harus memberi uang ' pelicin' dengan analog bagai orang akan menggarap sawah, sungguh memprihatinkan.
             Demikian pula ada suatu kejadian di Kemenag , dimana ada sebuah pondok pesantren yang tidak mengajukan proposal bantuan diberi dana bantuan karena kedekatan emosional dengan pejabat kemenag dan saya yang sudah mengajukan dan membutuhkan dana malah tidak diberi bantuan dana karena tidak ada hubungan 'personal'.
              Saya sering diperlakukan tidak adil dan menyaksikan ketidak adilan. Bahkan sewaktu masih kanak-kanak aku sering 'merasa' diperlakukan tidak adil oleh ibu kandungku sendiri. Yang menurut saya 'pilih kasih' . Misalnya, adikku yang nomor 2 selalu di dahulukan kebutuhannya dan dikabulkan keinginannya. Contoh kecil yang masih kuingat, saat itu ibu membagi buah semangka pada anak2nya yang baru berjumlah 3 orang. Buah semangka di bagi 3 tetapi yang 2 sama besar yang satu lebih besar. Yang paling besar diberikan pada adik ku yang nomor 2, aku dan adikku yang nomor 3 diberi bagian yang besarnya sama. Yang membuat aku heran, adikku yag nomor 2 minta lagi setelah buah semangkanya habis karena makanya cepat sekali, anehnya ibuku memintaku untuk memberikan bagianku pada adikku itu. Aku jadi heran, buaknkah tadi adikku sudah diberi lebih besar, mengapa aku yang mendapat lebih kecil masih disuruh memberikan bagianku lagi padanya ? 
Pertanyaan ini kupendam dalam hati dan aku hanya menuruti perintah ibuku. Kemudian setelah dewasa, berumah tangga, aku memberanikan diri menanyakan hal tersebut, ibuku menjawab " adikku diberi lebih besar karena dia laki2, makannya lebih banyak, sedangkan aku disuruh memberi lagi karena aku salah makanku lambat sehingga adiku kepengin lagi, maka aku yang 'nrimo' disuruh kasihkan bagianku.
           Mulai saat itu aku sudah menghilangkan perasaan tentang sikap ibu yang 'pilih kasih' Aku menyimpulkan bahwa, itu bukan pilih kasih, tetapi itu bentuk kebijakan seorang ibu yang memahami karakter anak2nya, sayangnya waktu itu tidak dijelaskan, sehingga aku berikir' negatif'.
Apa arti keadilan ? Rabu wage, 04 Juni 2014
             

Jumat, 23 Mei 2014

MY FAMILY PHOTOS




                                                     Anak ke 4 : Aviva Atqiyatul Arifa ( 3 th )
                                                     Lahir ; ahad legi 03-4-2011 / 29 Robiul akhir 1435 H
                                                    






                                                    Suamiku ( K Muhrorudin ) : lahir rabu legi 12 April 1968

                                                       
                                                    Anak ke 3 ( Muhammad Rahmatul Azhar )
                                                   Lahir : Selasa wage, 12 Juni 2001 / 20 Robiul awal

Anak ke 1 ( Tajun Milatu Syafa'at )
Lahir : Jumat Pon, 20 September 1996 )



Aku ( Dra.Tuti Munfaridah, M.s.i )
Lahir : Senin Pon, 27 Oktober 1969/ 15 Sya'ban


Anak ke 2 ( Azky Misbahu Rofi )
Lahir ; Ahad wage, 19 April 1998 / 22 Dzul hijjah 


Rabu, 30 April 2014

HARUS BAGAIMANA ?

           Saat ini aku sungguh galau dan ragu, amtara karya nyata untuk kepentingan bersama atau personal  family . Sebagai individu aku ingin meraih bahagia untuk diri sendiri dan keluarga. Disisi lain aku juga memiliki keahlian dan legalitas untuk mengabdikan diri bagi kepentingan umum, karena aku sarjana dan Dosen, dan Da'i yang bisa bermanfaat untuk masyarakat luas.
           Tetapi keinginan pribadiku adalah meraih mahabbah Ilahiyah yang sangat indah, uzlah, menyendiri dan jadi Sufi. Karena aku juga pernah mendapatkan maqom mahabbah Ilahiyah yang begitu indah.
            Sayangnya aku tidak bisa memilih satu diantara keduanya karena keduanya sama2 berat dan sama2 mengandung resiko serta menampilkan keraguan untuk menentukan langkah. Saat memilih menjadi Sufi  akan berimbas pengasingan diri dan tidak bermanfaat ilmuku. Tapi bila memilih terus berjuang, beraktifitas di masyarakat bisa jadi aku tak akan meraih mahabbah Ilahiyah selamanya, sebuah rasa dan status yang selama ini kukejar dan ingin kudapatkan.
          Tapi dalam hati nuraniku yang paling dalam, sungguh bagiku dunia ini tak ada artinya dan sangat menjenuhkan bila dibanding dengan mahabbah Ilahiyah. Ya Alloh, bisakah aku menjadi manusia yang bermanfaat dan berjuang lii'lai kalimatillah sampai akhir hayatku tetapi aku tetap bisa meraih, ridhlo dan mahabbah Ilahiyah seperti Rosulloh SAW , sebagaimana doaku  ? Meskipun kecenderungan hatiku lebih condong pada sufi, mahabbah Ilahiyah  dan 'uzlah. 
Robbana Atiina minladunka Rohmah wa hayyi' lana min amrinaa Rosada 100x. Amin

Senin, 14 April 2014

MAQOM / KEDUDUKANKU

               Membahas tentang kedudukan akan selalu terbayang kedudukan duniawi, seperti : Bupati, Rektor, Presiden dan lain-lain. Tetapi yang akan saya tulis di sini adalah maqom/ kedudukanku selaku hamba Alloh SWT. 
                  Dalam ajaran tasawuf Islam ada beberapa kedudukan / maqom manusia sebagai hamba Alloh di sisinya. Antara lain : maqom  ' abid, wali, salik dan lain-lain. Tetapi yang akan saya sampaikan di sini adalah kedudukanku terkait dengan perasaan dan perilaku yang saya rasakan selama ini.
                 Sejak kanak-kanak, aku sudah diajari berbagai teori dan perilaku yang baik oleh ayahku. Aku juga diajak mengaji/ menimba ilmu agama Islam dalam berbagai Majlis Taklim.
               Maka tulisan ini aku mulai dari perasaan dan perilaku ketuhanan/ ibadahku dari masa kanak-kanak. Saat aku masih kanak-kanak aku sudah menjadi anak yang taat pada ajaran Islam melebihi anak-anak lain sesusiaku. Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar/ SD saya sudah rajin puasa sunnah, qiyamul lail, tadarus, dzikir dan dawamul wudhlu. Kebiasaan2 tersebut aku lakukan sampai selesai kuliah S1. 
              Pada masa kanak2 aku merasa sebagai hamba Alloh yang senantiasa berlumuran dosa, padahal aku tidak pernah melanggar dosa besar. Aku merasa sebagai manusia yang 'kotor'. Aku selalu merasa takut pada Alloh SWT . Aku sangat tertarik pada kegiatan2 Islami. Sampai2 aku masuk sekolah Aliyah / SMU berbasis Islam padahal nilaiku tinggi karena rangking 1 dari SD sampai SMU.
               Pada waktu aku kelas 2 Aliyah ( 1986 ) tanpa sengaja aku ikut lomba ceramah agama Islam di sekolah untuk menggantikan teman sekelasku yang didelegasikan tetapi berhalangan/ sakit. Aku meraih juara I sungguh mengejutkan karena basic agamaku biasa saja, sedang teman2ku dari pesantren. Maka mulai saat itu aku di undang ke berbagai tempat sampai ke Boyolali, salatiga, rembang dll. Sejak saat itu aku jadi Da'i dengan julukan ' mba Nyai karena aku masih remaja, kalau Da'i yang sudah berumah tangga di juluku 'bu Nyai. Sejak saat remaja / kelas 2 SMU itulah sampai saat ini aku menjadi Da'i.
               Dari masa kanak-kanak sampai lulus S1, aku selalu merasa kotor, berlumuran dosa dan takut kepada Alloh SWT, tetapi kemuliaanku di mata manusia sangat mulia karena sebagai Da'i yang sangat dihormati, disegani dan dicintai masyarakat padahal masih remaja. Aku juga didatangi orang dengan berbagai permintaan doa, seperti ingin laris dagangannya, ingin cepat dapat jodoh, ingin punya anak, sakit dari stroke yang sudah bertahun2 dan lain2 padahal aku tdk bisa apa2, tetapi doa yang kuberikan Alhamdulillah terkabul.
                 Kemudian setelah menikah sampai tahun 2006 aku selalu mimpi2 tentang kedudukanku yang katanya aku adalah seorang waliyulloh dengan julukan ' podang kemuning '  guruku wali Pandanaran yang makamnya di Klaten, padahal saat itu aku belum pernah ke makam Beliau. Tahun 2006 - 2009 aku mendapat anugrah yang luar biasa indah. Setelah aku menjadi delegasi Pelatihan Shalat khusuk' dari Muslimat NU Kabupaten Cilacap di Hotel Grasia Semarang, oleh Ustadz Abu Sangkan, tak kuketahui apa sebabnya aku langsung menjadi orang yang selalu sillah ilalloh bidzauq wal mahabbah/  senantiasa terhubung kepada Alloh dengan perasaan yang dalam dan cinta yang begitu indah apapun kegiatan saya. Bahkan sepulang dari pelatihan tersebut saya tidak tidur 1 minggu tetapi hati tetap dzikir, badan dan wajah fresh, penuh kasih, sabar dan penuh pengertian. Bahkan dalam perjalanan pulang dari Semarang aku sempat kasih ke pengemis uang 50.000 rupiah dan merasa belas kasih pada wanita tuna susila yang duduk di sebelahku dengan keyakinan ' betapa Alloh Tuhan yang Maha Besar mentakdirkan manusia ada yang menjadi WTS sebagai kelengkapan perilaku manusia di Dunia'. 
                  Aku juga tahu kalau pada suatu hari minggu jam 9 pagi ayah mertuaku akan tiba di rumahku , dalam keadaan lapar karena belum makan pagi, padahal tidak ada yang memberitahuku. Aku juga bermimpi kalau kedudukan/ maqomku 200 x lipat tinggi gunung Slamet disisi Alloh SWT. Entah benar atau tidak mimpi2ku tentang kedudukanku, yang jelas sejak kanak2 mimpi2ku sering sesuai/ benar di kehidupan nyata.
Seperti saat aku mimpi kakak iparku keguguran, juga mimpi kakak iparku melahirkan anak peempua dan suaminya datang ke rumahku untuk menagabarkan kelahiran anaknya dengan naik sepeda mini dan berbaju kotak2. Persis mimpi tersebut sesuai kejadian sebenarnya. Termasuk bulan lalu aku mimpi ada agama Nasrani yang cara berpakaian dan beribadah seperti Muslim hanya shalatnya yang berbeda, membaca kitab berbahasa Arab tetapi aqidahnya Trinitas, ternyata dalam kenyataannya benar2 ada.
              Saat ini aku selalu merasa sebagai orang yang hina, dan fakir, rendah dan naif di mata Alloh SWT, jauh dari Alloh, kosong tidak terhubung hatiku padaNya.
Maka aku bisa menganalisa maqomku  sebagai berikut :
1. Masa kanak-kanak sampai menikah beberapa tahun aku berda pada  maqom taubat, khouf  dan roja' 
2. Masa bebrapa tahun setelah menikah aku berada pada maqom mahabbah ilalloh
3. Tahun 2009 - saat ini ( 2014 ) entah sampai kapan aku berada pada maqom ' abid, faqir dan dha'if 
               Aku tidak tahu mengapa sillah ilalloh bidzauq wa mahabbah hilang, yang jelas tahun 2006- 2009 adalah maqom yang paling indah dan menakjubkan karena apapun kegiatanku, tetap sillah ilalloh bidzauq wa mahabbah. Baik aku sedang bekerja, berbicara atau apa saja, aku tetap asyik masyuk ' bercengkrama dengan Alloh SWT. tetapi sejak ba'iat thoriqoh aku kehilangan semuanya. Perasaan indah yang dahsyat yang sangat menakjubkan. Sungguh penyesalan yang dalam tapi aku tak bisa mengembalikan hatiku pada keadaan semula, aku tidak tahu mengapa dan harus bagaimana, yang jelas aku saat ini sangta menyesal, tidak berdaya, dan rindu akan perasaan tersebut.
              Saat ini rasanya aku hanya manusia yang hina tanpa punya apa2. Aku rindu padaMu ya Robbii.....
Sampai kapan aku begini ? Akankah kuraih lagi cintaMu ? Atau sampai mati aku merara terlempar ke lembah nista, tanpa nama dan rasa..... Wallohu A'lam

Kamis, 27 Maret 2014

Fakir

     Ya Alloh, hari ini aku ingin mengaku dihadapanMu, bahwa aku hanyalah seorang hamba yang Faqir, selalu merasa kurang dan butuh pada semua hal, meski karuniaMu sangat melimpah dan tak ada putusnya.....Entah mengapa dan mulai kapan hal ini ku alami.
               Seingatku, dari masa kanak-kanak sampai punya 4 anak, baru kali ini aku terjatuh pada maqom faqir  dan Dhoif. Tepatnya mulai tahun 2014 . Aku harus membiayai pendidikan 3 anak-anakku yang sudah remaja di Pesantren Darul Hikam dan sekolah Aliyah. Aku juga harus mengangsur dana talangan Haji suamiku, disamping membiayai biaya operasional kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
        Memang sejak awal menikah sampai saat ini ( 18 th ) dan mungkin sampai mati, suamiku pengangguran. Akupun menerima dengan ikhlas dan tidak pernah menuntut apapun darinya. Apalagi dia adalah tipe laki-laki yang cuek , apatis tak peduli pada keadaan.
             Hanya yang aku sayangkan dan rasakan mengapa aku sampai menjadi orang fakir , padahal saat ini penghasilanku meningkat karena masuk serdos/ sertifikasi Dosen. Meski kampus memotong gaji mengajar karena sudah serdos. Aku juga punya mobil.
             Semoga saja kefakiranku bukan karena jatuhnya maqom wira'i  ( menjaga diri ) ku, melainkan hanya karena meningkatnya kebutuhanku. Aku jadi lebih besar empati pada para dhu'afa setelah merasakan sendiri prihatinnya jadi orang fakir.
                 Ya Alloh  ya Ghoniyyu , Yassir umuronaa, ya 'Aliimu ya Kariim.